Day 5 Bunsay Level 10

Kisah Bunda Saat Ketemu Abi

 

Beberapa bulan lalu kakak sempat “pacaran” dengan seorang anak perempuan di sekolahnya. Menurut ceritanya anak perempuan inilah yang menyukai kakak dulu dan kemudian akhirnya mereka pacaran.

Awalnya kami belum tahu sampai akhirnya kakak cerita tentang aak perempuan ini dan singkat cerita mereka tidak berpacaran lagi.

Belajar dari kelasnya ibu Okina bahwa sebaiknya kami orang tua menganjurkan anak untuk melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan anak kita mendekati dosa, jado sebaiknya anak kita tiadk dianjurkan untuk pacaran dengan alasan tersebut.

Akhirnya setelah berbulan-bulan berpisah bunda memberanikan diri untuk bertanya lagi tentang teman spesial kakak tersebut. Saat saya tanya respon kakak biasa dia bilang dia sudah tidak update lagi kabar tentangnya. Sayapun akhirnya memastikan kepada kakak, apakah nanti dia akan tetap mau pacaran lagi setelah punya pengalaman di SMP?

Kakak sedikit ragu menjawab bahwa sepertinya dia tidak akan pacaran lagi sampai cukup dewasa. Sayapun akhirnya memberi gambaran tentang proses pertemuan antara saya dan abinya hingga akhirnya kami menikah. Perkenalan yang cukup singkat dan kami saat ini sudah menikah hampir 15 tahun dan setelah saya bercerita saya bertanya kepada kakak tentang pendapatnya melihat kehidupan antara saya dan abinya. “Apa yang kakak lihat dari hubungan kami?” kakak tertawa dan menjawab “ya oke -oke saja sie ngeliatnya bunda dan abi juga meskipun kenal sebentar dulunya tapi sampe sekarang keliahat cukup cocok.”

Pembicaraan malam itu saya tutup dengan pertanyaan, “Apakah kakak mau mengikuti jejak kami dengan mencari pasangan saat sudah benar-benar siap menikah?” dan jawaban kakak adalah “aku sih mau-mau ajah”

Alhamdulillah

Advertisements

Day 6 Bunsay Level 10

Sportifitas dalam Berkompetisi

Sedang kehilangan kreatifitas, hari ini saya mengambil kisah tentang seorang pemain bola bernama Miroslav Klose.

Kisahnya kurang lebih seperti ini:

Hal itu pernah ditunjukkannya dalam sebuah momen ketika masih berseragam Werder Bremen di tahun 2005 lalu. Dalam sebuah insiden minor di kotak penalti Arminie Bielefeld, Klose yang terjatuh di dalam kotak penalti kemudian sukses mendapatkan penalti bagi timnya.

Alih-alih menerima dan bertempik sorak dengan hadiah tersebut, ia dengan percaya diri mendatangi wasit dan bilang bahwa ia tak layak memperoleh penalti. Salah satu keputusan yang kemudian membuatnya dibanjiri banyak pujian dari berbagai pihak. Bundesliga bahkan menyiapkan penghargaan khusus berupa fair play award khusus untuk Klose.

Dan reaksinya kemudian yang membuat kita patut jatuh cinta dengan eks penyerang Kaiserlautern ini. Dibandingkan merasa bangga karena menerima penghargaan terhormat tersebut, sang penyerang yang jago duel udara ini justru berkomentar, “Penghargaan ini adalah kehormatan besar tapi juga sedikit membuatku sebal. Bersikap sportif adalah sikap yang harus selalu kita pegang di lapangan dan aku akan terus melakukannya.”

Hal yang tidak saya sangka adalah kakak malah memberikan kisah sportifitas lain kepada saya tentang seorang pemain bola lain yang kisahnya juga luar biasa seorang kapten yang bisa membuat timnya bermain sportif, kapten bola yang bernama Carlos Puyol. malam itu ternyata bukan kakak saja yang mendengarka kisah tapi saya juga belajar mendengarkan kisah yang diceritakan kakal.

Alhamdulillah

Day 4 Bunsay Level 10

Jangan Pre Judge Mending Tabayyun

Banyaknya berita hoax dan kakak sudah mulai paham tentang itu sayapun mencoba menanamkan value yang lebih beragam. Kali ini kisahnya saya ambil pas kebetulan saya baca dari page seorang profesor sekaligus ulama Indonesia yang menjadi dosen tetap di Australia.

Kisah inilah yang saya ceritakan kepada kakak malam itu

Lelaki itu menerobos masuk ke Masjid, di tangannya ada sebilah pedang. Di depan jamaah yang mengelilingi Ibn Abbas, lelaki itu bertanya: “Apakah Allah menerima tobat mereka yang membunuh orang lain?” Ibn Abbas menjawab dengan tenang: “Tentu saja, bukankah Allah itu Maha Pengampun?! Lelaki itu segera berlalu.

Dua jam kemudian lelaki lain tiba-tiba memasuki Masjid. Ada pedang di tangan kanannya. Tanpa mempedulikan jamaah yang ketakutan, lelaki itu bertanya kepada Ibn Abbas, “Apakah Allah menerima tobat mereka yang membunuh orang lain?” Ibn Abbas dengan tegas menjawab: “Tidak! Allah akan mengazab mereka yang membunuh jiwa tak berdosa!” Lelaki itu segera berlalu dari Masjid.

Jamaah terpana dengan dua jawaban berbeda dari Ibn Abbas. “Mengapa anda memberikan fatwa yang berbeda pada pertanyaan yang sama? Apa dalilnya Ya Syekh?” tanya seorang murid.

Ibn Abbas menjawab: “lihat saja sorot mata kedua lelaki tersebut. Yang pertama, sorot matanya penuh penyesalan. Boleh jadi dia baru saja membunuh orang, dia ingin tahu apakah Allah akan menerima tobatnya setelah apa yang dia lakukan. Tentu saja aku sampaikan padanya bahwa ampunan Allah itu sangat luas. Adapun lelaki kedua sorot matanya penuh amarah. Dengan bertanya padaku boleh jadi dia punya rencana untuk membunuh orang lain. Sebelum peristiwa itu terjadi, aku harus memberikan fatwa yang bisa menghalangi rencana jahatnya.”

Begitulah hebatnya seorang Mufti. Dia harus tahu kapan bersikap lunak dan kapan tegas. Itu semua membutuhkan bukan saja pengetahuan akan ilmu keislaman tapi juga bacaan akan kondisi psikologis penanya, konteks sosiologis umat, dan hal-hal terkait lainnya.

Anda ingin fatwa yang halal atau fatwa yang haram? Fuqaha akan memberikan jawabannya, bukan semata-mata berdasarkan dalil, tapi juga sesuai dengan situasi dan kondisi. Komitmen mereka bukan pada konsistensi, tapi pada kebenaran –yang seringkali situasional, kondisional dan tergantung kasus serta urgensinya. Jawaban mereka yang anda anggap berbeda itu sebenarnya bisa dikembalikan kepada maqashid al-syari’ah.

Kisah Ibn Abbas di atas juga diceritakan oleh Imam al-Qurtubi dalam kitab tafsirnya.

Saya mengatakan kepada kakak, untung saja murid dari mufti tersebut mengkonfirmasi kepadanya kenapa bertindak beda, bayangkan jika murid tersebut berasumsi bahwa gurunya adalah seorang yang mencla mencle dan tidak berpendirian. Sehingga ada baiknya jika kita kurang data, kurang paham penasaran sebaiknya bertanya atau saat ini lebih dikenal dengan istilah tabayyun.

Alhamdulillah

Day 3 Bunsay Level 10

Sabar dan Mengambil Respon yang Memberdayakan

Hari ini kakak ribut lagi dengan iyuk (ART kami). Kebetulan ART kami ini usianya cukup tua dan pendengarannya kurang bagus plus penglihatannya pun sudah berkurang.

Pertengkaran kali ini karena kakak merasa disalahkan atas sesuatu yang menurut kakak sebenarnya salah si iyuk. Akhirnya Abinya sempat memberi gambaran bahwasannya melakukan sesuatu yang kontrolnya itu berada di kita lebih baik dibandingkan dengan jika kontrolnya di pegang orang lain. Seperti kasus kakak sore itu karena kakak lebih megandalka iyuk untuk menyiapkan bekal akhirnya karena ingatan iyuk kurang baik jadilah iyuk tidak memasukkan sendok ditas bekal makan siangnya kakak.

Akhirnya bunda malam sebelum kakak tidur menyampaikan tiga data tentag kondisi iyuk yang sebenarnya sudah kami semua pahami. tiga hal tersibut saya sampaiakan ke kakak bahwa iyuk lebih tua dari kakak bahkan dari bunda dan abi, Iyuk mulai kurang baik pendengaranya sehingga kami harus sedikit berteriak jika ingin berkomunikasi dan yang terkahir iyuk ini penglihatannyapun mulai berkurang terbukti banyaknya sendok yang masih kotor dan harus kami cuci lagi setiap hendak makan. Sehingga dari tiga data ini saya minta kakak untuk lebih bersabar saat harus berinteraksi dengan iyuk

Sayapun mencontohkan kepada kakak tentang mengambil respon supaya lebih berdaya. Kisah tentang seseorang yang sedang berjalan dan kemudian ada orang yang tidak dikenal memukul kepalanya dan si orang tersebut mengambil respon dengan “ooh mungkin orang ini gila atau setress ga kenal tapi memukul saya” sehingga dia tidak merasa sakit hati atau marah saat itu malah membiarkannya dan tetap berlalu. Saya sampaikan bahwa inilah respon yang memberdayakan karena sebenarnya marah itu buka reflek tetapi kita punya waktu untuk mengambil pilihan mau marah atau mengambil respon yang memberdayakan.

Alhamdulillah kakak mendengarkan dengan baik, tidak menginterupsi dan hanya tersenyum. Saya berharap dia paham dan lebih bijak dalam berkomunikasi dengan iyuk, karena saya sampaikan juga keluhan Iyuk yang merasa sulit juga untuk berkomunikasi dengan kakak.

Day 2 Bunsay Level 10

Adil yang Bukan Sama Rata Tetaoi Membagi Sesuai Kebutuhan Penerima

Hari ini saya tidak lama ambil waktu bersama kakak, karena kakak cukup letih setelah seharian sekolah dan les renang sorenya.

Hari itu secara tidak sengaja saya membahas tentang adil, karena waktu kami pergi dia merasa kami orang tuanya kurang adil memperlakukan kakak dan adik. Akhirnya saya jelaskan bahwa adil itu tidak selalu membagi rata sesuatu misalnya membagi pekerjaan rumah, tentunya karena kakak lebih tua kakak akan mendapatkan pekerjaan yang kelihatannya lebih berat jika di bandingkan dengan pekerjaan yang diterima adiknya. tetapi ini  jadi tidak adil karena sang adik usianya terpaut jauh.

Saya juga sempat mambahas kondisi adiknya yang masih kesulitan membaca jam analog. Kadang adiknya masih bingung jika diminta untuk menyelesaikan sesuatu dengan acuan jam akibat dari disleksianya yang belum tuntas, akhirnya kakak malah bercerita kepada saya tentang seorang guru IEP nya dia yang juga disleksia dan masih sulit mengeja beberapa kata seperti beautiful dan because. Kakak bilang menurut gurunya yang berasal dari London dan sudah berusia 20 tahun ini dia memang kesulitan mengeja dan disana banyak orang yang sudah paham tentang penyakit disleksia. Kakak bercerita pada saya bahwa ternyata pada beberapa anak penderita disleksia meskipun terlihat biasa tetapi mereka tetap harus punya trik trik khusus untuk mengatasi kekurangannya.

Alhamdulillah pengalaman belajar kakak di sekolah dalam program IEP ( international English Program) membuat kakak mendapat pengalaman berinteeraksi dengan seseorang dengan kondisi disleksia seperti adiknya.

Day 1 Bunsay Level 10

Internal Competition DBL Academy

Hari ini adalah hari kedua kakak akan mengikuti internal competition di academy, kebetulan kemarin kalah dan kemarin pula kakak sempat kecewa dan mengatakan pada saya bahwa dia tidak mau ikut pertandingan hari ini karena percuma pasti kalah karena lawannya jauh lebih baik.

Waktu itu saya hanya jawab itu tidak boleh nak, karena namanya tidak bertaanggung jawab, bunda berharap kamu menyelesaikan pertandingan ini tidak peduli hasilnya. karena masih kecewa akhirnya saya tidak mengatakan apa-apa lagi saat dia menjawab kalimat saya.

Malamnya saya ceritakan kepada kakak tentang kisah pelari bernama Derek Redmond. Derek adalah pelari tercepat untuk laari sprinter 400 meter dan memecahkan rekor lari di olimpiade 1991. Tahun 1992 saat olimpiade musim panas, Derek sedang bersiap untuk mengikuti kejuaraan  lari lagi tetapi sayang saat baru berlari 150 meter kaki Derek cedera dan dia tidak bisa melanjutkan larinya karena kakinya sakit. tetapi saat tim medis menghampirinya Derek tetap berusaha berjalan dan menyelesaikan pertandingannya meskipun semua lawannya sudah menyelesaikan lari 400 meter tersebut. Untuk keteguhannya bertanggung jawab menyelesaikan pertandingannya ini Derek mendapat sambutan luar biasa dari sekitar 65.000 penonton yang hadir, penonton yang melihat kejadian ini menjadi sangat terharu dan mengapresiasi keteguhan hati Derek.

Setelah saya bercerita kepada kakak Rinov, Alhamdulillah hari ini dia bersedia hadir dalam pertandingannya dan malah timnya harus menang karena tim lawan tidak hadir lengkap sehingga tim kakak menang WO. Akhhirnya saya menceritakan juga kisah saya saat pernah juga mengalami menang WO dan itu menurut saya juga tidak terlalu menyenangkan karena menang melawan lawan lebih baik dari menang WO.

Semoga kisah ini akan diingat terus oleh kakak dan dia bisa mengambil value dari cerita tersebut. Amiin

Day #10 Bunsay level 7

Hari ini kakak seharusnya masuk sekolah, tetapi karena jauh-jauh hari sudah ijin sama saya supaya hari ini ga masuk karena hanya kegiatan pondok Romadhon di sekilah hari ke-2 dan 3 hari lagi sudah raportan akhirnya memang saya ijinkan untuk tidak masuk sekolah.

Nah kebetulan juga hari ini Abinya sedang merenovasi dapur kami sehingga beberapa kali butuh bantuan kakak. Meskipun kakak beberapa kali seperti menunjukkan wajah kurang nyaman saat dimintain tolong tetapi kakak tetap melakukan.

Akhirnya saya sempat bicara baik-baik dengan kakak, saya hanya mengatakan begini.. ” kak, kami semua lagi repot, abimu persiapan mengecat sedang bunda membereskan dan mengeluaran barang yang sementara di keluarkan dari dapur sehingga jika kami minta tolong kakak mohon dimaklumi yaa..

Akhirnya kakak cukup memahami, saya juga memahami mungkin karena sedang puasa sehingga ada sedikit ogah-ogahan apalagi siang ini hawa Surabaya cukup terik.

Alhamdulillah